Koranaspirasi.com|Pringsewu — Kegiatan study tour yang diselenggarakan oleh SMP Negeri 1 Pagelaran, Kecamatan Pagelaran,kamis (12/02/2026). Menghadapi sejumlah keberatan dari orang tua siswa, kegiatan yang diikuti oleh sekitar 250 siswa kelas VIII, terdiri dari delapan kelas tersebut, menuai sorotan terkait besaran biaya yang dikenakan.
Menurut informasi yang dihimpun, study tour tersebut direncanakan untuk mengunjungi tiga lokasi salah satunya musium edukatif di Kota Bandar Lampung. Namun, penetapan biaya sebesar Rp360.000 per siswa dinilai cukup memberatkan sebagian wali murid, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keberatannya terhadap nominal tersebut. Ia menilai, dalam situasi ekonomi saat ini, pungutan untuk kegiatan di luar pembelajaran inti harus mempertimbangkan kemampuan seluruh orang tua siswa.
“Kami mendukung kegiatan edukatif, tetapi tolong perhatikan kondisi ekonomi orang tua. Rp360.000 bukan angka yang kecil,” ujarnya.
Dengan jumlah siswa sekitar 250 orang, total dana yang terkumpul dari pungutan tersebut mencapai Rp90 juta jika di kali 250 siswa. Angka ini memunculkan pertanyaan terkait transparansi penggunaan dana, rincian anggaran, serta mekanisme persetujuan dari komite sekolah dan wali murid.
Meskipun demikian, kegiatan study tour biasanya dilakukan sebagai bagian dari penguatan pembelajaran kontekstual dan harus bersifat sukarela serta melalui kesepakatan bersama. Sejumlah pemerhati pendidikan menegaskan pentingnya asas transparansi dan sukarela dalam pelaksanaan kegiatan di luar sekolah, agar tidak menimbulkan beban psikologis ataupun ketimpangan di lingkungan sekolah.
Hingga saat ini, pihak sekolah belum memberikan penjelasan resmi terkait rincian biaya, dasar penetapan anggaran, maupun mekanisme persetujuan kegiatan tersebut. Publik berharap agar pihak sekolah dapat segera memberikan klarifikasi secara terbuka, guna menjaga kepercayaan masyarakat serta memastikan kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada peserta didik dan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.(Roby)
















